Jumat, 23 Januari 2015

TANJUNG SELOR BANJIR | KABUPATEN BULUNGAN | KALIMANTAN UTARA



Tanjung Selor Dihiasi Genangan Air Banjir
Sejak saya tinggal di Tanjung Selor Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, pada Sabtu 10 Januari 2015, saya masih merasakan cuaca yang cerah, atau pun awan mendung.
Selama saya menetap di Tanjung Selor saya belum pernah merasakan cuaca berintensitas hujan deras dengan durasi yang sangat lama.
Namun, tepat hari Jumat, 16 Januari 2015 dini hari, awan hadir mengguyur air hujan dengan derasnya di Kecamatan Tanjung Selor.
Kontan, hujan yang berjam-jam ini membuat suasana pagi hari di beberapa ruas jalan digenangi air bekas hujan. Drainase yang tersedia seolah tidak mampu menampung debit air.
Drainase yang ada di depan rumah-rumah penduduk seakan tidak berfungsi, sebab airnya tidak mengalir ke hilir. Padahal, Tanjung Selor sendiri sangat berdekatan dengan sungai Kayan.
Hujan dini hari memang deras, tidur nyenyak saya pun terganggu. Saya sempat terbangun dari tidur karena mendengar rintikan hujan yang menerpa genteng rumah kosan saya di Jalan Rambai Padi, Tanjung Selor Ilir.
Saya sempat mendatangi warung makan Madiun milik Suwarti yang berada di bilangan Jalan Salak terendam. Saya datang kesini untuk membeli lauk-pauk untuk makan siang dan malam.
Nasib, pekarangan warung milik Suwarti terendam genngan air hujan. Untung saja, walau kena genangan, warung Suwarti tetap buka melayani jualan makanan. “Kalau hujan deras disini memang pasti banjir,” ujarnya.
Kata dia, sampai pernah terjadi, waktu hujan turun seharian, air pernah masuk ke dalam warung. “Kulkas saya saja hampir kerendam,” kata perempuan berjilbab ini.
Tapi tambahnya, sekarang agak mendingan,  warungnya telah dibuat lebih tinggi sehingga air genangan tidak harus sampai masuk ke dalam.
“Ini sudah saya kasih tinggi biar gak kebanjiran lagi. Saya buat tinggi, model rumah panggung, bagian bawahnya saya kasih kayu ulin agar kuat,” ungkap Suwarti.
Tidak hanya Suwarti yang was-was terhadap genangan banjir, Faisal Fikri, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bulungan juga prihatin.
“Harus ada pembenahan, drainase itu mesti terkoneksi sampai ke sungai-sungai agar airnya lancar dari hulu sampai ke hilir,” katanya, yang kala itu kepalanya mengenakan kopiah hitam.
Sebagai daerah yang akan menjadi pusat pemerintahan, seharusnya Tanjung Selor mampu beradaptasi dengan kebutuhan yang semakin dinamis. Penduduk yang tinggal di Tanjung Selor pun semakin bertambah, makanya perlu ada perubahan.
“Saya melihat ada beberapa saluran-saluran air yang masih macet. Ini yang ke depannya perlu diperbaiki segera, mengingat sudah banyak warga yang tinggal di Tanjung Selor,” ujar Faisal, yang berasal dari parpol PPP ini.
Karena itu, tegasnya, dia meminta pemerintah harus segera bertindak, membenahi saluran air yang masih belum maksimal. Lakukan normalisasi saluran air dengan cara memperlancar saluran air sampai ke area sungai.
“Yang mampet-mampet ya harus dikeruk. Jangan sampai ada yang dangkal,” tutur pria yang kini sedang menempuh studi di jurusan Managemen Konstruksi Institut Teknik Negeri Malang ini.
Saya melihat genangan air tidak hanya di satu tempat, ada lebih jumlahnya, seperti di antaranya di jalan-jalan yang memakai nama buah-buahan.
Kondisi Jalan Rambutan basah tergenang air hujan. Beberapa pengendara kendaraan bermotor yang melintas di jalan ini melajukan kendaraan dengan perlahan-lahan.
Di tempat lainnya, Sekolah Menengah Atas (SMA) Agape pun, lapangan sekolahnya tergenang air, namun sejumlah siswanya hadir, dan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Jalan Salak pun sama, begitu pun yang ada di Jalan Jeruk, Jalan Durian, Gang SMA sama-sama terendam air hujan. Keberadaan drainase di Tanjung Selor tidak mampu menampung debit air hujan, air meluap sampai ke daratan aspal jalan.
Kenapa bisa sampai terjadi demikian, katanya Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bulungan, Hasan Pemma, upaya pembangunan drainase di seluruh kawasan Tanjung Selor, sudah dilakukan sesuai perencanaan.
Bahkan dia mengaku, kalau penggarapan drainase selama setahun di Kabupaten Bulungan, menelan biaya sampai angka Rp 7 miliyar.
Ya itulah dia, yang terpenting warga masyarakat mesti terlibat, ikut menjaga dan memelihara drainase. Persoalan ini bukan saja urusan pemerintah namun warga masyarakat juga dibutuhkan partisipasinya.
Jangan anggap enteng akan keberadaan drainase, kalau pun mau membuang sampah bukan di drainase, supaya suatu saat hujan turun saluran air tidak mampet.
Berlanjut di malam hari, 16 Januari 2015, persisnya pada pukul 18.33 Wita aliran listrik di Tanjung Selor padam. Suasana kota jadi gelap gulita, terang cahaya hanya dibantu oleh lampu jalanan yang sumber energinya dari sinar surya.
Kontan kondisi ini sempat mematikan Tanjung Selor. Pedagang-pedagang kaki lima hanya mengandalkan cahaya lampu dari lilin, mereka yang sedang makan pun dalam kondisi remang-remang.
Tapi ada juga beberapa rumah mukim dan rumah ibadah yang aliran listriknya tetap menyala, karena menggunakan fasilitas genset. Namun ketika jam menunjukan pukul 19.44 Wita, Tanjung Selor kembali normal. Aliran listrik hidup lagi, Tanjung Selor kembali terang benderang. ( )

SUNGAI KAYAN | TANJUNG SELOR | KABUPATEN BULUNGAN | KALIMANTAN UTARA

SPEEDBOAT TARAKAN TANJUNG SELOR | KALIMANTAN UTARA

Menyeberang Lautan Ke Tanjung Selor


Hiruk-pikuk dinamika kehidupan manusia mewarnai pelabuhan speedboat Tengkayu Satu, Kota Tarakan, provinsi Kalimantan Utara, pada Sabtu 10 Januari 2015 siang. 

Saya mengunjungi pelabuhan penyeberangan kepulauan ini, untuk pergi menuju ke Kecamatan Tanjung Selor yang berada dalam pangkuan Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Menaiki transportasi speedboat ke Tanjung Selor adalah pengalaman pertama saya. Perahunya bernama Tanjung Ekspress, dengan bayaran Rp 120 ribu sampai tujuan di pelabuhan speedboat Tanjung Selor.

BANDAR UDARA JUWATA | KOTA TARAKAN | KALIMANTAN UTARA

Merasakan Bandar Udara Tarakan

Syukur Alhamdulillah, saya ucapkan. Ketika Sabtu 10 Januari 2015 saya mendarat dengan selamat di Bandar Udara International Juwata, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, setelah hampir satu jam menghabiskan waktu perjalanan melalui udara dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Sempat kaget juga, bandara yang baru pertama kali saya singgahi ini masih dalam proses pembangunan. Saya melihatnya, untuk sementara waktu masih berkondisi darurat, masih memakai bandara yang lama. Walhasil, pelayanannya pun belum go international

Seperti di antaranya ketika mengambil barang bagasi penumpang harus menunggu berjam-jam karena barangnya dicampur oleh penumpang dari segala jurusan. 

Minggu, 18 Januari 2015

BERSEPEDA | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Jalur Sepedanya Sih Sudah Tersedia


PALING asik berpergian naik sepeda. Inilah pendapat saya pribadi. Selain sehat dan ramah lingkungan, gerak kita pun jauh lebih efisen. Kita tidak perlu mengeluarkan kocek uang saku yang banyak.

Waktu menginjak tanah Kota Balikpapan, kota metropolis ini pun menyediakan jalur khusus sepeda kayuh. Jalurnya jelas, dilengkapi rambu-rambu dan medan jalannya pun dibatasi oleh garis kuning. 

Andai saja ada kendaraan bermotor melintas di jalur ini maka wajib menyingkir, lebih diutamakan buat mereka pengendara sepeda kayuh. 

Sabtu, 17 Januari 2015

PERAIRAN TENGKAYU | KOTA TARAKAN | KALIMANTAN UTARA

Sebuah perahu mini melaju di Perairan Tengkayu Kota Tarakan pada Sabtu 10 Januari 2015. Perairan ini tidak memiliki deburan ombak yang tinggi. (photo by budi susilo)

Jumat, 16 Januari 2015

LANGGAR AL INAAYAH | TANJUNG SELOR | BULUNGAN | KALIMANTAN UTARA


Melihat Langgar yang Megah

MATAHARI kala itu datang dari arah timur. Matahari muncul memancarkan sinarnya, yang memberi kehangatan sekujur tubuh saya pada Minggu 11 Januari 2015 pagi. 

Sinarnya memberikan penerangan sepanjang Jalan Pahlawan, Kecamatan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. 

Kala itu, suasana jalanan masih sepi, hanya terlihat satu dua kendaraan bermotor. Orang-orang yang berjalan kaki joging pagi tidak ada satu pun yang beraksi olah-raga pagi. 

MENGARUNGI PERAIRAN KALIMANTAN UTARA


Tiket Perahunya Lagi Turun Harga

SETIBA memasuki pintu gerbang sebuah pelabuhan Tengkayu Satu, Kota Tarakan Kalimantan Utara, saya diberitahukan oleh supir taxi, terlebih dahulu membeli tiket sebelum nanti kehabisan. 

Membelinya di loket resmi kapal speedboat, yang lokasinya agak jauh dari dermaga, pada Sabtu 10 Januari 2015. Daripada membeli kepada calo kena mahal, lebih baik beli di loket resmi toh.  

Di loket tiket, berbagai macam tiket ke berbagai jurusan tersedia, tetapi saya memilih ke jurusan Tanjung Selor Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. 

MENGINJAK BUMI KALIMANTAN UTARA


Terbang Menuju Tanjung Selor

FAJAR mulai terbit pada Sabtu 10 Januari 2015. Hari inilah, momen yang bersejarah buat saya, untuk menuju ke Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang masuk sebagai provinsi yang ke 34.

Saya menuju ke Tanjung Selor persis di penanggalan jawa Mulud 19 Wage, atau di penanggalan hijriah 19 rabiulawal. Pergi ke Tanjung Selor saya menggunakan jalur udara dan disambung lewat jalur air. 

Karena saya berawal dari Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, maka saya pun naik pesawat dari Bandar Udara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan. 

TANJUNG SELOR SAYA DATANG | KALIMANTAN UTARA


Tanjung Selor Saya Datang

Malam hari yang bercuaca cerah, rembulan malam yang bersinar terang pada Jumat 9 Januari 2015, pemimpin redaksi Tribun Kaltim Kompas Gramedia, Domu Ambarita mengabarkan ke saya, melalui telepon selulernya.

Bahwa Bang Domu akan menyerahkan surat tugas saya ke daerah Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, di kantor Tribun Kaltim, yang beralamat di Jalan Indrakila, Kota Balikpapan.

Saya belum ada bayangan seperti apa itu rupa wajah Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Daerah ini merupakan provinsi terbaru. Dahulunya, kawasan ini masuk daerah provinsi Kalimantan Timur.

Selasa, 13 Januari 2015

CAGAR BUDAYA RUMAH PANGGUNG BALIKAPAN

Rumah Berbahan Baku Kayu


Siang itu, untuk mengisi waktu luang, Saya bersama Ahmad Sodiq berkesempatan menyusuri sepanjang Jalan Letjen Suprapto, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, dengan menggunakan sepeda motor bebek milik Sodiq, pada Kamis 8 Januari 2015.

Arus kendaraan bermotor yang lalu-lalang kala itu memang agak ramai, maklum siang itu bertepatan dengan jam sibuk aktivitas warga masyarakat Kota Balikpapan.

Di daerah tersebut, saya menemukan pemandangan bergaya properti klasik, mirip era trend di jaman pemerintahan Hindia Belanda, berupa rumah panggung khas peradaban melayu.

KAMPUNG AIR | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Dihuni Perantau Sulawesi

WAKTU saya menyusuri seputaran Pasar Apung, pada Minggu 4 Januari 2015. Tidak jauh dari sini, ternyata ada juga sebuah perkampungan rumah penduduk. Orang lokal menyebutnya sebagai Kampung Air.  

Seperti Pasar Apung, tipe Kampung Air pun sama, bangunan-bangunanya sebagian besar bermodel panggung yang terbuat dari kayu-kayu ulin khas Kalimantan. Gaya rumah panggung ini berdiri di atas air.

Jalan-jalan kampung ini pun terbuat dari kayu. Saat saya berjalan susur kampung terdengar berisik suara langkah saya, karena jalannya yang terbuat dari potongan balok-balok kayu ulin.

PASAR APUNG | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Pasarnya Berada di Atas Air Laut

Liburan minggu, teman saya seprofesi jurnalis di Tribun Kaltim Kompas Gramedia, Ahmad Sodiq, mengajak saya jalan-jalan ke daerah Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Di daerah ini ada sebuah pasar yang berdiri di atas perairan laut, yakni Pasar Terapung Kampung Baru.

Persis sekitar jam dua siang, kami berdua menuju ke Pasar Apung dari Kampung Wonorejo Balikpapan pada Minggu 4 Januari 2015, melalui jalur darat menggunakan sepeda motor tua milik Sodiq. 

Panas matahari yang terik, tidak menghalangi kami menuju ke Pasar Apung. Cuaca yang seperti inilah yang kami harapkan agar kunjungan kami bisa berjalan lancar, bisa puas berkeliling pasar, tak terhalang guyuran hujan. 

DUNIA INI LADANG BEKAL AKHIRAT

Dunia Ini Ladang Bekal Akhirat


SUARA azan jumat kedua berkumandang kencang di Masjid Baitturahim, Kampung Wonorejo, Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. 

Gema azan itu terdengar, tersiar ke penjuru Kampung Wonorejo, tepat saat jarum jam menunjukan pukul 12.35 Wita, pada Jumat 9 Januari 2015. 

Sebagai pengkutbah jumat, disampaikan langsung oleh Ustad Abdulkadir Mawardi, yang di awal kutbahnya menyampaikan doa, harapan, dan rasa syukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan kesehatan dan mampu pergi tunaikan sholat jumat. 

Kamis, 08 Januari 2015

KAMPUNG WONOREJO | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Bumi Borneo Rasa Kultur Jawa
 

WONOREJO. Inilah nama daerah yang saya tempati di Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Mulai menempati di daerah ini sejak 15 Desember 2014. 

Kampung ini berkesan layaknya di tanah jawa. Dari namanya, dan orang-orang yang menetap sampai kulturnya pun berselera jawa serta lingkungannya bersih, nyaman dan rasa kekeluargaannya sangat mengental.

Pernah ada pengalaman, saya pergi menuju masjid yang ada di Wonorejo dengan berjalan kaki. Saat melangkahkan kaki, tiba-tiba ada seorang pengendara sepeda motor menawarkan tumpangan untuk bersama-sama pergi ke masjid, padahal saya sendiri belum mengenal dengan pengendara ini.

NELAYAN DESA MUARA | TELUKNAGA | TANGERANG | BANTEN

Membuat Perahu Lebih Ciamik


SIANG yang terik pada Sabtu 29 November 2014 lalu, saya bersama teman-teman yang lain dari Earth Hour dan Backpacker Tangerang datang ke sebuah Desa Muara Teluknaga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. 

Setiba di lokasi desa, pada pukul 11.24, saya pun melihat dan kemudian mendekat ke sejumlah pria yang sedang sibuk memperbaiki kapal nelayan. Tampak terlihat ada yang sedang memperbaiki papan kapal, juga ada yang mengecat tubuh kapal. 

Satu di antaranya adalah Mardi (58), dengan beratapkan terpal plastik biru, dia sibuk menggantikan papan kapalnya. “Ganti kayu yang lapuk. Saya ganti dengan yang baru,” ujarnya.

Selasa, 06 Januari 2015

OTONOMI KHUSUS KALIMANTAN TIMUR

Otsus Kaltim Itu Untuk Siapa Sih


KETIKA Minggu pagi, 4 Januari 2015 lalu, saya berjumpa dengan seorang tukang parkir di Pasar Klandasan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim). Dia bernama Usman, umurnya masih muda, 20 tahun. 

Sambil berdiri, badannya yang kecil itu disandarkan ke tubuh mobil model kapsul yang sedang ditaruh di lahan parkir Pasar Klandasan. Saya pun menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengannya.

“Kamu tahu Otsus,” tanya saya. Dia pun menjawab dengan bahasa tubuhnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian saya tanyakan kembali ke dia. “Kamu pernah dengar kata Otsus.” Jawaban dia sama, “Tidak pernah!.”

Senin, 05 Januari 2015

MANGROVE BALIKPAPAN KEPINGAN SURGA YANG DILUPAKAN

Mangrove Graha Indah 
Kepingan Surga Yang Dilupakan


Rimbunan hijau pohon-pohon bakau yang tinggi menghiasi alam bumi Graha Indah, Balikpapan Utara, Kalimantan Timur. Tak absen juga, Bekantan-bekantan bergelayutan asik di pohon-pohon Bakau yang tumbuh rindang. Tapi sesungguhnya, di balik keindahannya, tempat ekowisata ini bak kepingan surga yang telah dilupakan oleh kaum insan.

Ya inilah, atmosfir yang dirasakan ketika saya berkeliling di kawasan Mangrove Center di Graha Indah pada Jumat (2/1/2015) menggunakan kapal motor speedboat milik Mangrove Center bersama legislator Komisi II dan beberapa unsur pemerintahan eksekutif Kota Balikpapan.

 “Tempatnya asik buat ekowisata. Sering didatangi wisatawan,” ujar Oemy Facesly, Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Balikpapan yang saat itu satu perahu dengan saya.

Minggu, 04 Januari 2015

TAHUN BARU DAERAH BARU

Tahun Baru Daerah Baru

SELAMAT tahun baru 2015. Kalimat inilah yang pertama kalinya saya rasakan di pulau Borneo, provinsi Kalimantan Timur, yang ibu kotanya Samarinda. 

Sebelumnya, saya tidak pernah merasakan tahun baru di Kalimantan Timur. Paling sering, saya merasakan pergantian tahun baru ada di tanah Jawa, Kota Jakarta, di Kota Manado Sulawesi Utara serta Kota Gorontalo.

Saya sangat bersyukur, berkesempatan menikmati malam pergantian tahun baru di Kalimantan Timur, persisnya di Kota Balikpapan, kawasan Jalan Sudirman lapangan Merdeka dan pesisir pantai Monpera. 

BUKIT PELANGI | KUTAI TIMUR | KALIMANTAN TIMUR


Memandang Luas Daratan Sangatta

SAAT matahari akan tenggelam di perut bumi Borneo, saya bersama De'k Agus Prasetyo dan Imam Solikin beserta ketiga anaknya, meluangkan waktu untuk berkunjung ke dataran tinggi, Bukti Pelangi, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Sabtu 6 Desember 2014 lalu.

Menuju ke lokasi Bukit Pelangi, kami menggunakan dua sepeda motor. Jarak dari kediaman ke tempat tujuan tidak jauh. Jaraknya dari Jalan Yos Sudarso, Sangatta Utara, menuju ke Bukit Pelangi tidaklah sampai harus memakan waktu 45 menit, dan yang pasti juga tidak ada halangan berupa kemacetan arus lalu-lintas.

Untung cuaca kala itu cerah. Kami pun bisa puas berjalan, tanpa terkena kendala guyuran hujan. Saat tiba di puncak Bukit Pelangi kami bisa puas memandang panorama Sangatta dan pesona lautannya yang terbentang luas.

Jumat, 02 Januari 2015

LANGIT MALAM MONPERA BERTABUR KEMBANG API

Langit Malam Monpera 
Bertabur Kembang Api

Jarum jam menunjukan angka 23.12 Wita. Arus lalu-lintas di sepanjang Jalan Sudriman Kota Balikpapan ramai di jejali manusia. Saat itu bertepatan dengan malam pergantian tahun baru 2015.

Ketika saya melintas di sepanjang jalan itu, dari Hotel Aston hingga Gedung Wali Kota Balikpapan terlihat beberapa kendaraan bermotor roda dua dan empat berbaris mengular, memadati jalanan, Rabu 31 Desember 2014.

Arus lalu-lintas merayap, sehingga beberapa polisi pun tampak ada yang sibuk mengatur pergerakan kendaraan bermotor. IKebanyakan dari mereka para pengguna kendaraan bermotor menuju arah Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) dan Lapangan Merdeka.

Kamis, 01 Januari 2015

MENGHARGAI MAKHLUK HIDUP

Menghargai Makhluk Hidup 


KEHADIRAN Rasulullah Muhamaad SAW di muka bumi memberi reformasi umat manusia, utamanya dalam mengangkat derajat kaum perempuan. Islam hadir untuk melahirkan gerakan emansipasi wanita. 

Inilah pesan yang disampaikan oleh Ustad AH Pariadi dalam kutbah Jumat di Masjid Mathlaail Badrain Jalan Indrakila, Kelurahan Gunung Samarinda Baru, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur pada Jumat 26 Desember 2014.

Ia mengungkapkan, sebelum Islam hadir, perempuan ditindas, perempuan dianggap sebagai kaum yang rendah, di nomor duakan. “Perempuan di jaman jahilia belum dihargai. Perempuan dinilai hanya sebagai pemuas hawa nafsu semata,” katanya.

Senin, 29 Desember 2014

TELUK LOMBOK | KUTAI TIMUR | KALIMANTAN TIMUR

Pantainya Jadi Arena Balapan Perahu Katinting

Panas matahari masih terik, saya dari Desa Teluk Lingga, Sangatta Utara, mencoba berkelana ke daerah Teluk Lombok, Dusun Mekar Jaya, Desa Sangkima, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.   

Buat saya pribadi, pergi ke pesisiran Teluk Lombok pada Minggu 7 Desember 2014 adalah pengalaman yang pertama, sungguh ini buat saya merupakan kesempatan yang berbahagia. 

Saya pergi sendirian tanpa ditemani gaet. Saya berangkat melalui jalur darat, tanpa perbekalan yang banyak. Saya pergi menggunakan sepeda motor matik milik Indah Rahayu, saudara sepupu saya yang kini bekerja di Sangatta.  

Minggu, 28 Desember 2014

PELAMPUNG RENANG ANGSA | PANTAI MONPERA | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR



Bertopi biru, Suwito (66), di bawah terik matahari yang menyengat sedang menata pelampung renang miliknya, yang berjumlah puluhan di pinggiran Pantai Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat). 

Setiap harinya, Suwito di Pantai Monpera melakoni sebagai tukang sewa pelampung renang. Barang pelampungnya menyerupai binatang angsa putih, disewa dengan tarif Rp 10 ribu pakai sepuasnya.

“Sekarang lagi sepi. Sabtu dan Minggu biasanya ramai,” ujarnya kepada saya, pada Jumat 26 Desember 2014.

ES KELAPA MUDA PANTAI MONPERA | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Musim Liburan 100 Biji Kelapa Habis

SENJA mulai datang, matahari akan kembali ke peraduan Pantai Monpera (Monumen Perjuangan Rakyat) Kalimantan Timur, Kota Balikpapan, Jumat 26 Desember 2014. 

Angin sepoi-sepoi pantai Selat Makassar bertiup ke daratan, hembusannya memberi kenyamanan kawasan Monpera.  Abdul Majid, hanya terlihat sibuk mengupas buah kelapa muda yang akan dijualnya ke pengunjung Monpera.
Dia termasuk di antara penjual es kelapa muda di Monpera. Pria kelahiran Jombang Jawa Timur ini membuka warung jajanan makanan dan minuman. 

PANTAI MONPERA | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Monpera Wisata Kota yang Asyik

SEUSAI menjalankan ibadah sholat Jumat, saya menyempatkan waktu berkunjung ke daerah Monumen Perjuangan Rakyat Kalimantan Timur, dibilangan Jalan Sudirman pada Jumat 26 Desember 2014. 

Orang-orang setempat, sering menyebut lokasi wisata ini sebagai pantai Monpera, yang merupakan singkatan dari Monumen Perjuangan Rakyat Kalimantan Timur.

Monpera diresmikan sejak 19 November 1983 oleh kepala pemerintahan daerah Kalimantan Timur,  yang kala itu dijabat Gubernur KDH TK I Kaltim H. Soewandi.

PANTI ASUHAN KRISTEN TAMARISKA BALIKPAPAN

Natal Bersama Tamariska


SIANG hari yang terik, kedua bola mata Irene Grace Luntungan menatap layar kaca televisi berwarna ukuran 21 inchi buatan pabrik luar negeri. Televisi ini terletak di ruang tengah gedung Panti Asuhan Kristen Tamariska Kota Balikpapan. 

Televisi itu menayangkan siaran hiburan musik persembahan chanel televisi swasta. Grace meluangkan waktu siangnya untuk menyaksikan televisi bersama teman-teman panti asuhan.

“Tadi kami habis melakukan ibadah Natal bersama. Sekarang waktunya bersantai-santai, berkumpul bersama, menonton televisi bareng,” katanya kepada saya pada Kamis 25 Desember 2014 sore.

Kamis, 25 Desember 2014

NATAL DI BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Perbedaan yang Berbalut Kedamaian


Selamat hari Natal buat kalian yang merayakannya. Buat saya pribadi, momen natal di Kota Balikpapan Kalimantan merupakan yang pertama kalinya saya alami. Inilah kisah saya di akhir tahun 2014. 

Paling sering, ketika bertepatan hari raya Natal, diri saya berada di tanah Jawa atau juga Bumi Kawanua Sulawesi Utara. 

Tidak jauh berbeda dengan di Kota Manado Sulawesi Utara, daerah Balikpapan pun memiliki atmosfir yang sama. 

LAMIN ETAM AMBORS | KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA | KALIMANTAN TIMUR

Wisata Alam Yang Dilengkapi Binatang


MENTARI pagi bersinar. Teriknya menembus awan-awan, menerangi bumi Kota Balikpapan. Kesempatan inilah, waktu yang pas untuk berjalan-jalan ke luar Kota Balikpapan. 

Saya bersama teman-teman dari Tribun Kaltim, yang berjumlah sekitar 15 orang lebih, menyempatkan waktu mengunjungi daerah wisata alam Kalimantan, bernama Lamin Etam Ambors, pada Rabu 24 Desember 2014.

Daerah wisata alam itu ada di sebuah kabupaten, yakni Kutai Kartanegara, sebuah daerah yang terkenal dengan harta sumber daya alamnya berupa batu bara, yang belakangan sangat mengkhwatirkan, wajah di bumi ini sebagiannya telah rusak.   

MENJELAJAH MAKOSAT BRIMOB POLDA KALIMANTAN TIMUR


Menjelajah Makosat Brimob Polda Kalimantan Timur

EMBUN-embun pagi yang bening menghuni di dedaunan pepohonan Balikpapan Kalimantan kosan saya. Matahari pagi pun bersinar. Cuaca yang sungguh baik, bersahabat. Inilah atmosfir lingkungan kosan yang saya rasakan pada Selasa 23 Desember 2014 pagi.

Singkat cerita, saya pun yang satu komplek kos dengan sobat Lutfi, berencana akan pergi masuk ke kantor, Tribun Kaltim yang berada dibilangan Jalan Indrakila Kota Balikpapan. 

Jaraknya tidak jauh dari kosan kami, bisa ditempuh dengan sepeda motor tua milik sobat Lutfi. Jangkauan dari kosan ke Tribun Kaltim hanya memakan waktu sekitar enam menit lebih. Ini pun tanpa batu sandungan kemacetan arus lalu-lintas. 

Rabu, 24 Desember 2014

POLWAN MANADO | BALIKPAPAN | KALIMANTAN TIMUR

Satu Jam Untuk Anak

TERJUN ke dunia kepolisian Republik Indonesia bukan berarti seorang polisi wanita (Polwan) AKP Novy Magdalena, yang kini menjabat sebagai Kasat Lantas Polres Kota Balikpapan, melupakan urusan keluarga intinya. 

Ia tak mungkin harus meninggalkan kepentingan keluarga kecilnya, mengurus suami dan kedua anaknya. Sebab pada dasarnya, seseorang yang sudah berkecimpung dalam pernikahan, maka dituntut tanggungjawab membangun keluarga.

“Dua-duanya dikedepankan. Mengutamakan tanggungjawab karir saya,” tuturnya, pada Senin 22 Desember 2014 sore, di ruang kerjanya.